Loading...
CLOSE

Mengupas Peran Guru BK, Mahasiswa STIT Lakukan Wawancara di MTsN 4 Tabalong

 

MTsN 4 Tabalong – Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) melakukan kegiatan wawancara di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 4 Tabalong untuk mengupas peran guru Bimbingan Konseling (BK) dalam mendukung perkembangan akademik dan sosial siswa. Kegiatan ini berlangsung pada Rabu, (28/1//26) di ruang BK.

Kegiatan wawancara ini diikuti oleh lima mahasiswa STIT dari Fakultas Tarbiyah, Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) semester II, yang tergabung dalam mata kuliah Praktik Lapangan Bimbingan Konseling. Wawancara dilakukan dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah untuk memahami secara langsung peran guru BK di madrasah.

Para mahasiswa mewawancarai guru BK MTsN 4 Tabalong terkait peran guru BK dalam memberikan arahan, motivasi, dan solusi terhadap permasalahan siswa, baik akademik maupun non-akademik.

“Guru BK memiliki peran penting dalam mendampingi siswa menghadapi tantangan belajar dan perkembangan pribadi. Kami ingin memahami praktik langsung yang diterapkan di madrasah sekaligus memenuhi tugas mata kuliah,” ujar Muhammad Ikhwan Saputra salah satu mahasiswa peserta wawancara.

Menurut Sarkiah, S. Pd guru BK yang diwawancarai, kegiatan semacam ini dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap profesi guru BK sekaligus memotivasi guru untuk terus mengembangkan metode bimbingan yang efektif. “Melalui dialog langsung, mahasiswa mendapat wawasan praktis yang tidak bisa dipelajari dari buku, dan kami juga mendapat masukan yang membangun,” ujarnya.

Ditambahkannya bahwa kegiatan wawancara mahasiswa STIT di MTsN 4 Tabalong diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara dunia akademik dan praktik pendidikan, sekaligus menumbuhkan kesadaran pentingnya peran guru BK dalam mendukung kualitas pendidikan di madrasah.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala MTsN 4 Tabalong, M. Yusuf, S. Pd. I, M. Pd., menyampaikan apresiasi atas kegiatan mahasiswa tersebut. “Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana bagi siswa dan guru untuk saling berbagi pengalaman. Mahasiswa dapat belajar secara langsung, sementara guru BK mendapat masukan baru dari perspektif akademik mahasiswa,” jelasnya.

Kegiatan wawancara mencakup pembahasan berbagai topik, mulai dari strategi konseling individu dan kelompok, pengelolaan konflik antar siswa, hingga inovasi kegiatan yang mendukung kesejahteraan emosional siswa. Selain itu, mahasiswa juga mengamati interaksi guru BK dengan siswa untuk memahami dinamika nyata di lapangan. (Rep:Dyah/Ft:Tasya)