MAN 1 Tabalong –MAN 1 Tabalong melaksanakan kegiatan Matrikulasi Kitab "Washoyaa Al-Abaa Li al-Abnaa" dengan materi bertemakan "Nasihat dan Taqwa kepada Allah". Kegiatan ini diikuti oleh seluruh peserta didik kelas XI, bertempat di Masjid Miftahul Ulum, Kamis (25/9/25). Kegiatan ini diawali dengan pelaksanaan sholat Dhuha berjamaah yang dipimpin oleh Wakamad Kesiswaan, Haris Fadillah, S.S.I.
Dalam penjelasannya, Haris menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pembinaan karakter dan akhlak peserta didik yang berbasis nilai-nilai keislaman klasik. “Kegiatan ini bukan hanya mengenalkan isi kitab klasik, tapi juga menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual agar peserta didik lebih bertakwa dan berbakti kepada orang tua,” ujar Haris. Ia juga menekankan bahwa melalui pembelajaran kitab ini, peserta didik diharapkan memahami pentingnya nasihat orang tua dalam kehidupan sehari-hari.
Kitab Washoyaa Al-Abaa Li al-Abnaa sendiri merupakan karya ulama klasik yang berisi nasihat-nasihat orang tua kepada anak dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk akhlak, ibadah, dan hubungan sosial. Dalam kegiatan ini, siswa diajak untuk membaca, memahami, dan mendiskusikan isi kitab dengan pendekatan yang kontekstual sesuai kehidupan mereka saat ini. Hal ini bertujuan agar nilai-nilai dalam kitab tidak hanya dipelajari, tetapi juga diinternalisasi dalam sikap dan perilaku mereka.
Selain memperkuat karakter, kegiatan ini juga menjadi ajang penguatan budaya literasi kitab kuning di kalangan pelajar madrasah. Peserta didik tampak antusias mengikuti pembelajaran, yang disampaikan dengan metode interaktif dan melibatkan diskusi aktif. “Kami senang karena bisa belajar langsung kitab klasik yang ternyata sangat relevan dengan kehidupan kami sebagai remaja muslim,” ujar Azizah salah satu peserta didik kelas XI.
Plt. Kepala MAN 1 Tabalong, Drs. H.M. Rizali Hadi, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan ini. Ia menilai matrikulasi kitab adalah salah satu strategi penting dalam menumbuhkan kesadaran keagamaan di kalangan pelajar. “Kegiatan ini sangat positif dan harus terus dilanjutkan. Membiasakan peserta didik memahami kitab-kitab klasik seperti ini merupakan upaya nyata untuk menanamkan nilai-nilai luhur Islam sejak usia remaja,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa ke depan, program seperti ini akan terus dikembangkan sebagai bagian dari pembelajaran karakter berbasis keislaman. “Kami berkomitmen menjadikan literasi kitab kuning sebagai bagian integral dari pendidikan di madrasah. Harapannya, para siswa tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga kuat secara spiritual dan akhlak,” tutur Rizali. (Rep/Ft:Aisyatur Ridha)
