Loading...
CLOSE

Workshop Kurikulum Berbasis Cinta, Ka.Kankemenag : Upaya Memperkuat Pendidikan yang Humanis dan Berkarakter

 

Tanjung (Kemenag Tabalong) – Workshop Kurikulum Berbasis Cinta menjadi langkah nyata Kementerian Agama Kabupaten Tabalong dalam memperkuat arah pendidikan yang humanis dan berkarakter. Kegiatan yang digelar di Aula MTsN 4 Tabalong pada Kamis (9/10/25) dihadiri Kasi Pendidikan Madrasah, Ma’mun Bakhtiar, Kepala MTsN 4 Tabalong serta diikuti para guru dan tenaga pendidikan. Kegiatan dibuka langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama (Ka.Kankemenag) Tabalong, H. Sahidul Bakhri.

Dalam arahannya, H. Sahidul Bakhri menegaskan pentingnya paradigma baru dalam dunia pendidikan. Menurutnya, kurikulum berbasis cinta tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi menempatkan manusia sebagai pusat pembelajaran, di mana guru dan peserta didik membangun relasi yang sehat, penuh penghormatan, dan jauh dari tekanan.

“Setiap anak adalah pribadi yang unik dan berharga. Tugas kita sebagai pendidik bukan sekadar mengajar, tetapi juga membimbing dengan hati, memberi teladan, dan menghadirkan suasana belajar yang penuh kasih sayang. Inilah makna utama dari kurikulum berbasis cinta,” ucap H. Sahidul Bakhri.

Beliau menjelaskan, filosofi kurikulum berbasis cinta adalah menumbuhkan pribadi yang cerdas sekaligus berakhlak. Dengan pendekatan ini, anak-anak diharapkan tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki empati, toleransi, dan kepedulian terhadap sesama.

Lebih lanjut, H. Sahidul Bakhri menekankan bahwa pendidikan harus menyentuh semua aspek perkembangan anak: intelektual, emosional, spiritual, sosial, hingga fisik. Guru diharapkan dapat menghadirkan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, memberi ruang ekspresi seni dan budaya, serta mendorong kegiatan sosial yang membangun karakter.

“Implementasinya bisa beragam, mulai dari cara mengaitkan materi dengan pengalaman nyata, menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, hingga penilaian yang menekankan proses, bukan hanya angka. Dengan begitu, sekolah benar-benar menjadi rumah kedua yang ramah dan penuh cinta,” tambahnya.

Menutup arahannya, beliau berharap agar semangat kurikulum berbasis cinta tidak hanya berhenti pada workshop, melainkan diterapkan secara konsisten dalam praktik pembelajaran sehari-hari. “Jika kita bersama-sama menjalankan kurikulum berbasis cinta, insya Allah akan lahir generasi yang berintegritas, penuh empati, dan siap hidup harmonis di tengah masyarakat,” pungkasnya. (Rep:Sry/Ft:Mukhlis)