MAN 4 Tabalong – Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 4 Tabalong, Hidayat, S.Ag.,M.M menutup secara resmi kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan pembelajaran mendalam (Deep Learning) mengajak seluruh guru di madrasah harus dapat memahami kebutuhan dan tipologi siswa demi suksesnya mengimplimentasikan KBC dan deep learning ,Jum’at (17/10/25) di aula madrasah.
Kepala madrasah, Hidayat,S.Ag.,M.M katakan dilaksanakannya Bimtek Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang kolaborasi deep learning tersebut merupakan upaya untuk menyelaraskan visi misi dalam mengimplementasikan cinta di lingkungan madrasah. Cinta tersebut meliputi cinta kepada Tuhan, sesama, lingkungan, tanah air dan cinta terhadap kepedulian sosial.
Kemudian tegas beliau, bahwa implementasi KBC dapat diwujudkan melalui pola pengajaran dengan sentuhan hati dan cinta. Guru menjadi garda terdepan untuk menebar kebaikan, kebahagiaan, memahami tipologi karakter peserta didik, sehingga siap menghadapi tantangan maupun peradaban baru.
“Guru menjadi inspirator, murid tidak hanya menerima informasi atau pembelajaran, tetapi mau berpikir serta berinovasi. Kurikulum Berbasis Cinta dimaknai bagaimana mengajar dengan hati, ditunjukkan dengan keteladan maka akan menjadi sebuah identitas atau uswah bagi anak-anak,” ujar Hidayat.
Lebih lanjut, Hidayat mengingatkan bahwa tidak ada guru yang menakutkan maupun pelajaran yang ditakuti, melainkan guru yang mampu dirindukan dan mengajar dengan cinta yang tidak tersedia di dunia digital. Hal tersebut tersedia dalam proses pembelajaran Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).
“Ada ketidaksediaan di dunia digital, yaitu proses pembelajaran dengan sentuhan cinta. Saat ini, peserta didik sudah mengkonsumsi informasi yang banyak, maka harus hadir ditengah kelas sesuai kebutuhan peserta didik. Pelajari apa yang dibutuhkan merka dan mengajarlah dengan menyenangkan,” jelas Hidayat.
Senada dengan hal tersebut, ketua panitia Bimtek, Muhammad Nor, S.Pd.I.,M.M menambahkan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) mempersiapkan peserta didik di madrasah untuk mengamalkan nilai-nilai cinta yang berlandaskan dengan ajaran Islam untuk membentuk peserta didik yang berakhlakul karimah.
“Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dibentuk guna menghadapi perubahan drastis yang terjadi untuk memutus mata rantai tragedi kemanusiaan, meningkatkan nasionalisme, mencintai alam, serta mengembalikan situasi kembali ke sunnah dan dilakukan secara masif teristem melalui madrasah. Sehingga tercipta lingkungan pembelajaran yang menyenangklan,” ungkapnya.
Maka dari itu, komitmen guru madrasah diharapkan semakin kuat melalui pengarahan yang diberikan dalam workshop tersebut guna mewujudkan cinta di dalam ruh pendidikan selaras dengan tujuan dibentuknya Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan mencetak generasi qur’ani yang tertanam nilai-nilai cinta dalam berbagai aspek kehidupan. tukas M.Nor (Rep;Tini/Ft:Sinta).
