Loading...
CLOSE

Latih Siswa Jadi Peneliti Cilik Lewat Tugas Wawancara di Sekitar Madrasah, Guru Dorong Pembelajaran Kontekstual

 

 

MTsN 11 Tabalong – Guru Bahasa Indonesia Madrasah Tsanawiyah Negeri 11 Tabalong, Nurlina Hayati, S.Pd., mengajak peserta didik kelas VIII C melaksanakan kegiatan wawancara dengan para pedagang di sekitar lingkungan madrasah pada Kamis, (09/10/2025).

 

Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran teks laporan hasil observasi yang menekankan pada kemampuan siswa dalam mengumpulkan, mengolah, dan menyajikan informasi berdasarkan fakta di lapangan.

 

Dalam pelaksanaannya, peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mewawancarai pedagang dengan beragam latar usaha, seperti penjual makanan, minuman, dan kebutuhan sekolah.

 

Nurlina menjelaskan bahwa praktik wawancara di lapangan menjadi salah satu metode pembelajaran kontekstual yang efektif. “Melalui kegiatan ini, siswa belajar menghubungkan teori yang dipelajari di kelas dengan kondisi nyata di sekitar mereka. Mereka berlatih menyusun pertanyaan, mencatat hasil wawancara, dan menulis laporan dengan memperhatikan struktur teks yang benar,” ujarnya.

 

Ia juga menambahkan bahwa pengalaman langsung seperti ini dapat meningkatkan keaktifan dan rasa percaya diri peserta didik. “Anak-anak terlihat antusias saat berinteraksi dengan narasumber. Selain belajar menulis laporan, mereka juga belajar berkomunikasi dengan sopan dan menghargai orang lain,” imbuhnya.

 

Salah satu peserta didik, Aisya Airini Wulandari, mengungkapkan kesannya setelah mengikuti kegiatan tersebut. “Kegiatan ini seru karena kami bisa belajar langsung di luar kelas. Saya jadi tahu bagaimana cara bertanya dengan baik, mencatat informasi penting, dan memahami bagaimana pedagang berusaha setiap hari. Pengalaman ini membantu saya menulis laporan dengan lebih mudah,” tuturnya.

 

Di kesempatan terpisah, Kepala MTsN 11 Tabalong, Fathurrahman, S.Pd.I., menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di luar kelas. Ia menilai bahwa kegiatan semacam ini menjadikan pembelajaran Bahasa Indonesia lebih kontekstual dan bermakna, karena peserta didik tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya secara langsung di lingkungan sekitar. Menurutnya, kegiatan observasi dan wawancara seperti ini memberikan pengalaman belajar yang lebih aktif sekaligus melatih keterampilan literasi peserta didik melalui praktik nyata di lapangan.

 

“Melalui kegiatan tersebut, siswa diharapkan dapat memperoleh pemahaman yang lebih konkret mengenai aktivitas ekonomi masyarakat sekitar serta proses komunikasi dalam kegiatan observasi,” ungkapnya. (Rep/Ft: Murtajiah)