MAN 4 Tabalong - Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2025, Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 4 Tabalong Hidayat, S.Ag.,M.M, Wakamad Kurikulum, Muhammad Nor, S.Pd.I.,M.M, Wakamad Kesiswaan Galih Bayu Utomo, S.Pd serta siswa madrasah laksanakan ziarah ke-makam pejuang Tabalong Gusti Buasan yang beralamat di desa Lampahungin, Kecamatan Haruai Kabupaten Tabalong, Senin (10/11/25).
Sesampainya di Makan Gusti Buasan, Kepala dan wakamad serta siswa menggelar pembacaan yasin, tahlil dan do’a bersama untuk pahlawan Gusti Buasan.
Dikutip dari sejarah perjuangnya, Hidayat ceritakan bahwa Gusti Buasan adalah tokoh Tabalong yang berjuang melawan penjajahan Belanda. Beliau berjuang di sepanjang sunggai Tabalong kiwa. Bersama istri dan saudaranya Gusti Barakit, mereka melawan penjajahan Belanda. Strateginya, Gusti Buasan dan istri berjuang di daerah timur. Sedangkan Gusti Barakit di daerah barat.
Kedua bersaudara ini, menjalin hubungan baik dengan panglima Pembalah Batung yang berasal dari Amuntai. tutur Hidayat.
Lanjutnya, bertahun-tahun lamanya mereka berperang. Kalah dan menang sudah biasa,tapi tidak ada kata menyerah. Belanda memikirkan tipu muslihat untuk mengalahkan musuhnya. Mata-mata disebar untuk mencari kelemahan Gusti Buasan dan Gusti Barakit.
Suatu ketika, sepulang dari kampung Badudus, Gusti Buasan bersama istri dan Gusti Barakit singgah di tempat saudara angkat mereka di kampung Mantikus. Ternyata, kunjungan ini terdengar mata-mata Belanda. seketika rumah itu dikepung.
Dalam keadaan terhimpit, pertempuran berlangsung sengit. Hingga istri Gusti Buasan dan Gusti Barakit berhasil lolos. Dalam pelarian, keduanya menuju sungai Tabalong Kanan.Di sini, Gusti Barakit menunjukkan keistemewaannya.beliau mampu mengambang di atas air. Sementara itu, Gusti Buasan juga lolos, tapi pahanya tertembak. Ia luka parah. Tak kuat lagi berjalan. Gusti Buasan menggulingkan diri ke sungai dan menyelam.
Belanda dibuat frustasi. Gusti Buasan kabur dan bersembunyi. Syukurlah, dalam persembunyiannya Gusti Buasan menemukan penolong. Namun, dari hari ke hari, lukanya semakin parah hingga akhirnya meninggal dunia.
“beliau sempat berpesan, seandainya meninggal supaya dikubur di lokasi persembunyiannya. Tempat itu sekarang disebut desa Lampahungin,” terang Hidayat.
Sementara wakil kepala madrasah bidang kesiswaan, Galih Bayu Utomo berharap dengan dilaksanakannya ziarah makam pejuang kemerdekaan Gusti Buasan ini, bisa menjadi motivasi pada siswanya agar semakin rajin belajar, mengingat perjuangan para pahlawan jaman dahulu tidak mudah.
“Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kunjungan ini, dan anak-anak makin rajin belajar karena kita sudah merdeka, saat ini tinggal kita berperang dengan rasa malas belajar,” pungkasnya. (Rep:Tini/Ft:Sinta)
